Free Web Site - Free Web Space and Site Hosting - Web Hosting - Internet Store and Ecommerce Solution Provider - High Speed Internet
Search the Web

VI. FUNGSI DA’WAH MELAWAN PENJAJAH

 

Indonesia pernah meringkuk dalam belenggu imperialisme asing : kolonialisme Nasrani selama 3 ½ abad dan Fascisme-Majusi selama 3 ½ tahun.

Ciri imperialisme-Nasrani selama itu bukan saja merupakan dominasi politik, exploitasi ekonomi dan penetrasi kebudayaan, tapi meletakkan tujuan yang paling achir : likwidasi agama.

Dengan kekuatan tiga leter M : Mercenary, Missionary, Military imperialisme Belanda (Nasrani) menegakkan kekuasaannya di Indonesia dalam waktu yang lama, 350 tahun.

Kekayaan tanah air kita dihisapnya, kebudayaan kita diracuninya, agama kita ditindasnya.

Dengan kekuatan Militer Indonesia dirampasnya dari nenek moyang kita.

Misi dan zending dibantunya dengan kekuatan politik dan keuangan yang dirampasnya dinegeri kita.

Program jangka panjang ditangan kaum imperialis yalah hendak meng-Keristenkan bangsa Indonesia seluruhnya, hendak melikwidir agama Islam dari muka bumi Indonesia.

Demikian juga halnya dengan imperialisme Barat lainnya diseluruh Afro-Asia. Begitu Inggeris, Perancis, Amerika dan sebagainya.

Imperialisme internasional itu bekerjasama menaklukkan bangsa-bangsa Afro-Asia, merampas rezeki dan kehormatan bangsa yang dijajahnya, dan menukar agama anak negeri dengan agama yang dibawanya, ialah agama Nasrani.

Herankah orang jikalau perlawanan yang pertama-tama sekali terhadap imperialisme itu adalah dipelopori oleh pahlawan Islam ?

Perang Diponegoro, Perang Padri di Minangkabau dibawah pimpinan Imam Bonjol, Perang Aceh dengan Tengku Umarnya, Sulthan Babullah di Ternate dan lain-lain, semua itu digerakkan dan dipimpin langsung oleh pahlawan-pahlawan Islam yang gagah berani.

Yang menjadi aspirasi dan inspirasi dari para pahlawan Islam itu bukan saja karena mengetahui rencana jangka panjang dari kaum imperialis yang hendak melikwidir Agama Islam, akan tetapi karena hakekat ajaran Islam pada dasarnya adalah anti imperialisme dan kolonialisme, anti penghisapan dan perbudakan.

Memang, formil perlawanan dan perang kemerdekaan yang digerakkan oleh para pahlawan-pahlawan Islam gagal berhasil, karena mereka berhadapan dengan organisasi dan technik yang lebih modern dari kaum penjajah, akan tetapi moril perjuangannya sampai kepada revolusi Agustus 1945, dimana kaum imperialis terpaksa meninggalkan pantai dan lautan kita.

Tahukah Saudara, apa fungsi si Tukang Da’wah melawan penjajah ? Mengertikah Andika, apa perjuangan Muballigh diatas mimbar menentang imperialisme dan kolonialisme ? Fahamkah anda, apa peranan pejuang mimbar dizaman jajahan ? Dan betapa sempitnya jalan untuk mengembangkan kegiatan ?

Patah dan kalahnya Perang Diponegoro, Perang Padri, Perang Aceh dan Perang Ternate, sama sekali tidak berarti perjuangan dan perlawanan berhenti.

Dari perjuangan senjata berkuah darah, pindah keperjuangan lisan melalui Da’wah.

Mesjid telah menjadi kubu-pertahanan.

Dari Mesjid si Juru Da’wah menyusun perlawanan, membangun semangat dan jiwa jihad.

Melalui chutbah setiap Jum’at, melalui pengajian setiap subuh, melalui Tabligh setiap pekan, situkang Da’wah melancarkan perlawanan yang tidak terpatahkan dan tidak terkalahkan.

Apa juga masalah yang dibahasnya, masalah ‘Aqidah dan ‘Ibadah, masalah Mu’amalah dan Masyarakah, Achlak dan sebagainya, semuanya langsung menembus dada imperialisme dan kolonialisme.

Ranjau delik, fasal 153 bis dan ter, passenstelsel dan exorbitanterchten, segala itu tidak berkuasa menutup mulut Muballigh dan Mujahid Islam.

Kaum kolonial mengeluarkan undang-undang vergader-verbod, tapi sekali sepekan setiap Jum’ah di Mesjid dan Mushala kaum Muslimin mengadakan rapat umum.

Kaum kolonial mengadakan undang-undang Openlucht vergadering (rapat dibawah langit), tapi dua kali dalam setahun (‘Idulfitri dan ‘Idul Adha) Ummat Islam mengadakan rapat raksasa ditanah lapang, tepat si Juru Da’wah memberi bekal perjuangan kepada Ummat Islam untuk masa setahun.

Setengah mati kaum penjajah mengurung Ummat Islam agar jangan berhubungan dengan kaum Muslimin diluar tanah airnya, tapi sekali dalam setahun seruan Ibrahim menunaikan Rukun Islam yang kelima, telah memberi peluang dan ruang untuk membina cita Pan Islamisme yang sangat ditakuti itu.

Jalan sempit yang sulit yang dibuatkan penjajah untuk melumpuhkan Da’wah samasekali tidak berdaya mematahkan kegiatan berjuang.

Kemana Muballigh pergi, kesana spion kolonial mengikutinya, mengintipnya.

Tapi dalam segala kesempatan itu selalu terbuka kesempatan.

Wahyu selalu memberi jalan untuk lalu.

3 ½ abad imperialisme Nasrani di Indonesia berusaha, menggunakan tiga M : Mercenary, Missionary, Military (Laba, Gereja, dan Tentara) untuk melikwidir Agama Islam dinegeri ini, namun tujuan terachir itu tak pernah dicapainya.

Malah justru yang mengusirnya dari sini dan pergi tanpa pamitan dengan kita, tanpa mempertanggungjawabkan atas segala dosa yang telah dibuatnya selama itu, yalah ruhul jihad dari 60 juta kaum Muslimin Indonesia.

Belanda-Nasrani pulang, fascisme-Majusi datang.

Kejamnya lebih dari imperialisme Nasrani.

Dia memerintah dengan bayonet dan Osamu Seirei, dengan perkosa dan kekerasan tak ada taranya.

Segala organisasi Islam yang dibangunkan dizaman kolonial dilumpuhkan.

Kiblat ummat Islam hendak digantinya, melalui doktrin Seikerei ruku’ kearah Tokyo sambil memusatkan hati kepada Tenno Heika keturunan Dewata yang katanya turun dari kahyangan untuk kemakmuran manusia dalam lingkungan Asia Raya.

Tahukah Saudara, bahwa semakin kejam kezaliman dan penindasan yang dilakukan oleh Dai Nippon Teikoku, semakin tajam pula pandangan perjuangan ummat Islam menentang dia ?

Kezaliman fascisme-Majusi Jepang terhadap Ummat Islam telah menolong tugas si tukang Da’wah berbicara kepada Ummat Islam bahwa Saudara Tua wajib dikembalikan kenegerinya.

Belum pernah Ummat Islam Indonesia merasakan tajamnya ‘Aqidah Islamiyah dan mekarnya Uchuwah Islamiyah, seperti dizaman Jepang.

Formil tak ada organisasi yang mengatur perjuangan, tapi ikatan jiwa dan persatuan bathin, terasa dimana-mana.

Tenang tampaknya dipermukaan air, tapi mahadahsyat bergolakan menentang kezaliman dan penindasan.

Sewaktu penulis buku ini ditahan dizaman Jepang, dan kamarnya berdekatan dengan kamar K.H. Zainal Mustafa yang berontak melawan Jepang, saya bertanya kepada Ajengan Singaparna (Tasikmalaya) itu : “Kenapa Kiayi berani melawan Jepang ?

Dia menjawab dengan pertanyaan lagi : “Bukankah Jepang itu Majusi ?

Akhirnya K.H. Mustafa itu menemui syahidnya, dan saya Alhamdulillah dengan bantuan beberapa teman di Jakarta dibebaskan, setelah menahankan siksaan dan pukulan dari Kenpei Tai.

Ribuan Muballigh dan Mujahid Islam yang dimasukkan dalam penjara dan kamp-kamp tahanan fascisme Majusi Jepang. Disiksa, didera dibanting oleh Jepang yang memperlakukan mereka seperti bibi Sarinah mencuci kain sarung.

Segala itu tidak mematahkan perjuangan para Juru Da’wah, malah telah menolong para Muballigh berbicara kepada Ummat Islam bahwa Jepang adalah bangsa yang zalim yang harus diusir dari negeri ini.

Memang, jalan sempit serta licin. Cuaca lincah, udara gelap.

Alam sekeliling merupakan ancaman. Bukan saja ancaman pembuian, malah ancaman maut, ancaman kematian.

Perjuangan keyakinan Islam tidak dapat dihentikan oleh ancaman Kenpei Tai, polisi rahasia Jepang yang berkeliaran dimana-mana.

Masuk bui keluar bui, dari penjara ke penjara menjadi tunangan yang harus dikawini oleh para pejuang Islam, sejak zaman kolonial sampai kezaman fascisme Jepang.

Jika jalan sempit, tindasan semakin menghimpit bagi  para pemikir dan pejuang, bagi Shahibud Da’wah yang arif memperhitungkan arah angin dan ukuran cuaca, telah mempertajam analisa pandangan, memandaikan diri untuk lalu menyeruak ditengah-tengah maha kesulitan itu.

Dalam salah satu pertemuan Muballighin di Jawa Barat zaman Jepang, penulis buku ini pernah mengatakan :

..... Jika segala pintu dan semua jendela telah tertutup rapat, saudara hendak memasuki ruangan rumah saudara sendiri (merebut hati Ummat), saudara harus sanggup menjadi angin, angin yang mampu memasuki ruangan rumah melalui lobang-lobang konci dan lobang-lobang jendela.......

Jepang pulang kenegerinya tanpa pamitan, tanpa memperhitungkan dan mempertanggung jawabkan kelakuan dan pekerjaannya selama 3 ½ tahun yang telah merusak ruhani dan jasmani Ummat bangsa kita.

Datangnya tidak dengan izin kita dan pulangnya tanpa pamitan dengan kita.

Tanggal 17 Agustus 1945 meletuslah Revolusi Indonesia.

Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia.

Proklamasi Kemerdekaan menuntut pembelaan dari putera dan patriot Indonesia.

Tamansari Indonesia Merdeka harus disiram dengan darah puteranya sendiri.

Perang Kemerdekaan, mempertahankan hak mutlak bangsa kita, jelas artinya : Jihad fi sabilillah.

Bukankan dalam Indonesia Merdeka Ummat Islam beroleh kembali kemerdekaannya, kemerdekaan beragama, yang telah dirampas oleh imperialisme Barat selama 3 ½ abad dan oleh imperialisme Timur (Jepang) selama 3 ½ tahun ?

Lonceng kemerdekaan Indonesia yang berdentang pada tanggal 17 Agustus 1945, telah membuka kemungkinan luas para Muballigh Islam untuk menyumbangkan dan mengurbankan apa yang dimilikinya dalam Revolusi berdarah itu.

Tidak sulit mereka memilih posisi, memilih bidang dan ruang, dalam perang kemerdekaan.

Tradisi revolusioner yang dimilikinya selama ini (anti imperialisme dan kolonialisme dalam segala bentuk dan manifestasinya), watak dan semangat jihad yang diwarisinya turun-temurun, telah memudahkan para Muballighin kita untuk memilih tempat apa tugasnya dalam perang kemerdekaan itu.

Tugas itu yalah, mengobarkan jiwa berkurban, menanamkan tekad bay’at ‘alal Maut, cinta menghadapi Maut

 Utnuk menegakkan Hidup, membela Kemerdekaan tanah air tercinta, dikalangan rakyat semesta.

Seiring dengan meledaknya granat dan mortir digelanggang perang, meledak pulalah ayat-ayat Jihad dan Qital melalui Lisan dan Tulisan para Muballighin Islam.

Dengan perantaraan radio, surat kabar dan majalah, pamplet-pamplet, Tabligh dan rapat-rapat umum, jiwa jihad dan semangat syahid dikobarkan dimana-mana.

Masuk kampung keluar kampung dari masjid ke masjid, dari langgar ke langgar, ayat-ayat revolusioner dijadikan dasar gemblengan dalam masyarakat.

Seluruh anggota masyarakat digerakkan untuk berjoang mengusir penjajah, mengusir kafir dari Indonesia.

Kota-kota besar ditinggalkan, rumah kediaman ditinggalkan. Orang kota hijrah kepedalaman. Rakyat Desa menerima mereka dengan hti dan tangan terbuka, laksana kaum Anshar di Madinah menerima Muhajirin dari Mekkah.

Kesediaan dan kerelaan menerima tamu yang datang dari kota itu adalah buah gemblengan para Muballighin Islam.

Kaum tani dikerahkan untuk menyumbang hasil pertaniannya kegaris depan.

Nasi bungkus dimobilisir untuk memberi makan para pejuang dimedan pertempuran.

Seluruh potensi dikerahkan untuk merampungkan revolusi, mengusir kaum imperialis dari pantai-daratan Indonesia, mengusir kafir pulang kenegerinya.l

Kalimatun Sawa, kesamaan pendirian yang mengikat erat rakyat revolusioner selama revolusi berdarah yaitu kemerdekaan tanah air.

Kemerdekaan diatas segala-galanya. Membela kemerdekaan artinya membela hak hidup dari Nation Indonesia yang besar.

Untuk merampungkan revolusi mengusir penjajahitu tak ada perhitungan untung rugi, hidup atau mati. Kemerdekaan menuntut siraman darah para syuhada, kemerdekaan menuntut diberyati segenap putera bangsa.

Ketahanan revolusioner dan ketabahan berjuang, kesabaran menanggungkan kekurangan, keteguhan pendirian mendaki puncak gunung kesulitan dan menempuh jalan pendakian, yang ditanamkan kedalam dada dan jantung rakyat semesta selama revolusi kemerdekaan, telah menjadi taruhan pasti menangnya Bangsa Indonesia dalam mempertahankan Proklamasi dan Revolusi Agustus.

Dalam menempa jiwa perjuangan dan membangun semangat perlawanan pantang menyerah itu, jasa para Muballighin Islam tidaklah kecil.

Rakyat dipedalaman menjadi saksinya.

Mimbar Da’wah telah menjadi sektor-sektor perjuangan yang paling vital.

Shahibud Da’wah telah bertindak menjadi jurubicara dari revolusi bangsa.

Saudara ! Kalau Republik Indonesia kini telah diakui sebagai Imam dari perjuangan anti imperialisme oleh seluruh bangsa Afro-Asia itu adalah wajah semangat  Bangsa Indonesia. Wajah semangat bukan hanya buatan Revolusi Agustus, tapi telah dibina selama ratusan tahun oleh para pahlawan Islam.

Pahlawan-pahlawan Islam Diponegoro, Imam Bonjol, Tenku Umar, Sulthan Babullah, Maulana Hasanuddin, Syarif Hidayatullah, Cokro-Salim.

Dalam memelihara dan memupuk Wajah Semangat anti imperialisme dan anti kolonialisme itu, Muballighin Islam memegang peranan penting.

Sepak-terjang pejuang revolusioner yang besar Jamaluddin Al Afghany menentang imperialisme Barat, telah memberi ilham dan nafas kuat kepada angkatan Muballighin Islam di Indonesia.

Buah pena Amir Syakib Arsalan, ucapan dan tulisan Sayid Abdurrahman Al-Kawakiby, telah memberikan inspirasi yang tidak kecil artinya dalam menyelesaikan dan merampungkan Revolusi Indonesia dalam makna memberi isi dan arti kepada kemerdekaan Bangsa, membentangi Negara dari ancaman luar dan memelihara Revolusi-kerakyatan kita dari ancaman dari dalam, tenaga Muballighin Islam akan tetap menjadi faktor yang sangat vital.

Ummat Islam chususnya dan Muballighin Islam umumnya bertanggung jawab dari awwal sampai achir dari Revolusi Indonesia.

Kita tidak boleh absen dalam Revolusi Bangsa Kita.

Hidup suburnya Agama, mekar-menguntumnya Ketuhanan Yang Maha Esa di Indonesia, tegak atau rebahnya keyakinan Islam dinegeri ini bergantung seluruhnya kepada kegiatan, tindakan, sikap dan perjuangan Ummat Islam Indonesia sendiri dalam taraf penyelesaian Revolusi Bangsa kita.

Dalam arus dan gelombangnya revolusi kemanusiaan sekarang ini untuk mengachiri perbudakan dan perhambaan dunia, mengachiri hayatnya imperialisme dan kolonialisme, melepaskan bangsa-bangsa Afro-Asia dari belenggu kaum imperialis, tenaga Juru Da’wah diseluruh dunia tidak kecil artinya.

Ajaran Islam pada dasarnya anti imperialisme dan kolonialisme dlam segala bentuk dan manifestasinya.

Ummat Islam mempunyai tradisi revolusioner dalam perjuangan melawan imperialisme dan kolonialisme.

Pertahankan dan teruskanlah pendirian dan tradisi itu dengan konsekwen, kalau kita tidak bersedia menjadi ummat yang hancur lumat ditindas oleh roda-raksasanya revolusi kemanusiaan sekarang.

Ummat Islam umumnya dan Muballighin Islam chususnya mendapat panggilan chusus dalam perjuangan anti imperialsime dan kolonialisme itu.

Panggilan mengachiri perbudakan didunia, terutama diatas bumi Ummat Islam sendiri.